Dapur Gizi RSSA Malang Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp900 Juta

Berita30 Views

Dapur Gizi RSSA Malang Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp900 Juta Kebakaran melanda Dapur Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar atau RSSA Malang, Jawa Timur, Rabu, 9 September 2026. Insiden yang terjadi pada sore hari itu menghanguskan sebagian fasilitas pengolahan makanan rumah sakit dan membuat sejumlah pasien harus dipindahkan sementara untuk menghindari paparan asap.

Direktur RSSA Malang Mochamad Bachtiar Budianto mengatakan api pertama kali terdeteksi sekitar pukul 14.50 WIB. Rumah sakit kemudian mengaktifkan sistem tanggap darurat Code Red dan melakukan penanganan awal sembari meminta bantuan petugas pemadam kebakaran. Manajemen memperkirakan area yang terkena kebakaran mencapai sekitar 300 meter persegi dengan kerugian sementara sekitar Rp900 juta.

Tidak ada korban jiwa maupun korban luka yang dilaporkan. Pelayanan medis utama juga tetap berjalan, termasuk Instalasi Gawat Darurat, rawat inap, rawat jalan, dan pelayanan operasi. Persoalan terbesar yang harus segera diselesaikan berada pada penyediaan makanan pasien karena dapur gizi merupakan fasilitas utama untuk mengolah makanan sesuai kebutuhan medis masing masing pasien.

Api Pertama Kali Terdeteksi Sekitar Pukul 14.50 WIB

Aktivitas RSSA Malang masih berlangsung seperti biasa ketika api mulai terdeteksi di kawasan dapur gizi. Kepulan asap kemudian terlihat dari bagian bangunan sehingga petugas rumah sakit segera menjalankan prosedur tanggap darurat.

Menurut keterangan manajemen RSSA, kebakaran pertama kali diketahui pukul 14.50 WIB. Sistem Code Red kemudian diaktifkan. Code Red merupakan prosedur kedaruratan yang digunakan untuk merespons kebakaran di lingkungan fasilitas kesehatan, termasuk memberikan peringatan, melakukan pemadaman awal, mengamankan pasien, dan mengendalikan akses menuju lokasi berbahaya.

Petugas internal rumah sakit terlebih dahulu menggunakan alat pemadam api ringan dan hidran. Upaya itu dilakukan untuk menahan penyebaran api sebelum tim Pemadam Kebakaran Kota Malang mengambil alih penanganan di lokasi.

Kepala UPT Damkar Kota Malang Pandu Rizki Darmawan menyatakan laporan diterima sekitar pukul 14.57 WIB. UPT Damkar mengerahkan 20 personel dengan empat kendaraan water supply dan satu kendaraan rescue. Catatan dari pihak rumah sakit kemudian menyebut keterlibatan tujuh mobil pemadam dalam keseluruhan penanganan. Perbedaan jumlah tersebut berasal dari keterangan lembaga yang berbeda sehingga tidak tepat apabila langsung disamakan.

Api Menjalar ke Bagian Dapur dan Ruang Laundry

Titik kebakaran berada di area yang digunakan untuk kegiatan pengolahan makanan pasien. Api kemudian mengenai bagian lain yang berdekatan, termasuk ruang laundry yang menyimpan perlengkapan rumah sakit.

Petugas menemukan sejumlah plafon telah terbakar dan sebagian mengalami kerusakan. Peralatan dapur, bahan makanan, selimut, seprai, serta barang di ruang laundry ikut terkena api maupun panas dari kebakaran.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak dapat hanya berpusat pada nyala api yang terlihat. Petugas harus memastikan tidak terdapat bara di balik plafon, instalasi listrik, atau material lain yang berpotensi kembali menyala.

Area Terbakar Diperkirakan Mencapai 300 Meter Persegi

Setelah kondisi dapat dikendalikan, manajemen mulai menghitung kerusakan fisik. Direktur RSSA menyebut luasan sementara yang terkena kebakaran sekitar 300 meter persegi.

Dari perhitungan awal tersebut, nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp900 juta. Angka itu masih berupa estimasi awal dan dapat berubah setelah pemeriksaan inventaris bangunan, instalasi, peralatan, bahan makanan, dan fasilitas pendukung selesai dilakukan.

Kerusakan sebuah dapur rumah sakit tidak hanya dihitung berdasarkan tembok atau atap yang terbakar. Peralatan pengolahan makanan berkapasitas besar, instalasi listrik, penyimpanan bahan, sistem ventilasi, meja kerja, alat masak, dan fasilitas sanitasi mempunyai nilai yang cukup tinggi.

Rumah sakit juga harus memperhitungkan biaya pemulihan karena instalasi gizi harus memenuhi standar kebersihan. Area yang pernah terkena asap dan proses pemadaman tidak dapat langsung digunakan hanya setelah sisa kebakaran dibersihkan.

Menurut penulis, nilai kerugian Rp900 juta baru menggambarkan persoalan fisik yang terlihat pada tahap awal. Bagian yang lebih penting adalah seberapa cepat instalasi tersebut dapat kembali memenuhi standar keamanan pangan rumah sakit.

Dugaan Awal Mengarah pada Hubungan Pendek Listrik

Penyebab pasti kebakaran belum ditetapkan. Manajemen RSSA menegaskan proses investigasi masih berlangsung sehingga dugaan awal tidak boleh dianggap sebagai hasil pemeriksaan akhir.

Bachtiar menjelaskan indikasi sementara mengarah pada hubungan pendek arus listrik di bagian atap ruang dapur. RSSA sendiri sedang menjalankan pembaruan jaringan listrik karena sebagian instalasi berada pada bangunan lama.

Menurut Bachtiar, pembaruan sistem kelistrikan RSSA telah mencapai sekitar 60 persen. Sisanya masih dikerjakan secara bertahap karena kegiatan pelayanan rumah sakit tidak dapat dihentikan seluruhnya dalam waktu bersamaan.

Keterangan mengenai instalasi lama akan menjadi salah satu bagian yang kemungkinan diperiksa. Tim terkait perlu mencari titik awal api, kondisi kabel, perangkat kelistrikan yang terhubung, beban listrik pada saat kejadian, serta kemungkinan sumber panas lainnya.

Pemeriksaan semacam itu diperlukan karena dapur mempunyai banyak perangkat berdaya tinggi. Peralatan pemanas, pendingin, pencahayaan, mesin pengolahan, dan berbagai perlengkapan bekerja dalam waktu panjang untuk melayani kebutuhan pasien.

Pasien Dipindahkan untuk Menghindari Asap

Walaupun api tidak mengenai ruang perawatan, asap mencapai kawasan yang berdekatan dengan beberapa ruang rawat inap. Rumah sakit kemudian memilih memindahkan pasien sebagai langkah pencegahan.

Informasi awal dari Humas RSSA menyebut 19 pasien anak dipindahkan menuju Grand Pavilion. Mereka dievakuasi menggunakan kursi roda dan dilaporkan berada dalam keadaan stabil tanpa memerlukan tambahan bantuan oksigen.

Dalam keterangan berikutnya, Direktur RSSA menyebut keseluruhan pasien yang dipindahkan mencapai 45 orang. Jumlah tersebut mencakup pasien dari ruang rawat anak serta ruang rawat khusus wanita yang lokasinya berdekatan dengan sumber asap.

Perbedaan angka tersebut dapat dijelaskan dari waktu pemberian informasi. Angka 19 muncul pada laporan awal dan secara khusus merujuk pada pasien anak, sedangkan angka 45 disampaikan kemudian oleh direktur untuk keseluruhan pasien yang menjalani pemindahan sementara.

Pasien Kembali Setelah Kondisi Dinyatakan Aman

Manajemen melakukan pemeriksaan terhadap pasien setelah proses pemindahan. Tidak ditemukan kegawatan yang berhubungan dengan asap atau proses evakuasi.

Pasien di ruang khusus wanita telah kembali ke ruang perawatan sekitar pukul 16.00 WIB. Pasien anak juga dikembalikan setelah area dinyatakan cukup aman. RSSA menyatakan pemantauan akan terus dilakukan, termasuk perhatian terhadap kondisi psikologis pasien setelah mengalami situasi darurat.

Rumah sakit menyiapkan psikiater dan psikolog apabila terdapat pasien yang membutuhkan pendampingan. Langkah tersebut menjadi penting terutama bagi anak yang sempat melihat asap, petugas pemadam, atau proses pemindahan dari ruang perawatan.

Tidak Ada Korban Jiwa maupun Luka

Kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Tidak ada laporan pasien maupun pegawai rumah sakit yang mengalami luka akibat api.

Manajemen RSSA menyatakan kebakaran tidak mengenai fasilitas medis utama. Peralatan yang digunakan untuk diagnosis, operasi, IGD, dan perawatan pasien tetap aman sehingga pelayanan dapat diteruskan.

Keadaan ini menunjukkan pemisahan fungsi antarbangunan membantu membatasi perluasan kebakaran. Meski begitu, asap tetap harus diperlakukan serius karena pasien rumah sakit dapat mempunyai kondisi pernapasan, jantung, atau kesehatan lain yang membuat mereka lebih rentan.

Rumah sakit juga harus memastikan sistem ventilasi pada ruang yang berdekatan telah diperiksa sebelum pasien ditempatkan kembali. Bau sisa kebakaran, partikel asap, serta debu dari material plafon dapat tetap berada di udara setelah api padam.

Pelayanan IGD dan Operasi Tetap Berjalan

Kebakaran yang terjadi di lingkungan rumah sakit berpotensi menimbulkan gangguan luas apabila menyentuh listrik, oksigen medis, ruang operasi, atau akses ambulans. RSSA memastikan bagian tersebut tidak mengalami gangguan.

IGD tetap menerima pasien, termasuk pasien yang datang menggunakan ambulans rujukan. Rawat inap, rawat jalan, dan tindakan operasi juga dilaporkan dapat berjalan.

Rumah sakit kemudian melakukan lokalisasi pada jalur listrik di kawasan yang terbakar agar kerusakan tidak memengaruhi fasilitas lain. Pemisahan jalur sangat penting karena upaya pemadaman menggunakan air dapat menambah risiko ketika jaringan listrik belum diamankan.

Pelayanan pada Kamis, 10 September 2026 dan hari berikutnya juga dinyatakan tetap berjalan. Pasien yang telah memiliki jadwal pemeriksaan tidak diminta menunda kunjungan hanya karena insiden kebakaran tersebut.

Dapur Gizi Memiliki Fungsi Penting bagi Pasien

Instalasi gizi rumah sakit mempunyai fungsi jauh lebih kompleks dibandingkan dapur rumah tangga atau restoran. Makanan disiapkan berdasarkan kondisi kesehatan pasien serta rekomendasi dokter dan tenaga gizi.

Satu pasien mungkin membutuhkan makanan rendah garam, sedangkan pasien lain harus mengurangi gula, lemak, protein, atau kandungan mineral tertentu. Ada pula pasien yang membutuhkan makanan bertekstur lunak karena kesulitan mengunyah atau menelan.

Karena itulah berhentinya dapur gizi dapat memengaruhi pelayanan meskipun seluruh ruang medis tetap beroperasi. Rumah sakit harus menemukan sumber penyediaan makanan pengganti yang sanggup memproduksi ratusan porsi sekaligus dengan susunan menu sesuai kebutuhan kesehatan.

Menurut penulis, menjaga pelayanan makanan sama pentingnya dengan memulihkan bangunan. Pasien tidak dapat menerima makanan umum begitu saja karena sejumlah diet rumah sakit merupakan bagian dari terapi medis.

Ratusan Porsi Makanan Sempat Terkena Kerusakan

Pada saat kebakaran terjadi, proses memasak untuk kebutuhan pasien hari itu pada dasarnya telah selesai. Makanan telah disiapkan untuk proses distribusi sehingga kebutuhan pasien tidak langsung terhenti.

Salah satu laporan awal menyebut sekitar 600 porsi makanan terkena kerusakan setelah sebagian atap bangunan runtuh. Rumah sakit kemudian memesan sekitar 600 porsi pengganti dari empat perusahaan katering dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan nutrisi serta jenis diet pasien.

Keterangan lain dari Humas RSSA menyebut makanan yang telah selesai diproduksi sebelumnya tetap tersedia untuk distribusi. Perbedaan laporan tersebut menunjukkan terdapat beberapa kelompok makanan dan waktu distribusi yang berbeda selama proses penanganan.

Manajemen akhirnya memutuskan menggunakan jasa katering untuk sementara waktu. Penyedia makanan harus mengikuti standar pelayanan gizi RSSA dan tidak diperbolehkan sekadar menyediakan menu umum.

Katering Sementara Harus Mengikuti Diet Pasien

Kerja sama dengan penyedia eksternal membutuhkan pengawasan tenaga gizi rumah sakit. Daftar pasien harus dicocokkan dengan jenis diet sebelum makanan dikirim ke setiap ruangan.

Identitas makanan juga harus jelas untuk mencegah pertukaran. Kesalahan memberikan makanan tinggi gula kepada pasien tertentu atau makanan tinggi garam kepada pasien dengan pembatasan natrium dapat menimbulkan persoalan kesehatan.

Suhu makanan, kebersihan kemasan, waktu pengiriman, dan proses penyimpanan turut diperiksa. Ratusan porsi harus tiba dalam waktu yang berdekatan agar pasien tetap mendapatkan makan sesuai jadwal.

Rumah sakit belum mengumumkan berapa lama kerja sama katering akan berlangsung. Waktu penggunaannya akan bergantung pada pemeriksaan keamanan serta proses perbaikan dapur yang terbakar.

Pemadaman Memiliki Beberapa Catatan Waktu

Terdapat perbedaan waktu yang disampaikan terkait selesainya penanganan api. Direktur RSSA menyebut api berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.40 WIB setelah Code Red diaktifkan dan bantuan pemadam tiba.

Sementara itu, laporan yang mengutip petugas Damkar menyebut proses pemadaman serta pembasahan berlangsung sampai sekitar pukul 16.30 WIB. Laporan lain mencatat lokasi benar benar dinyatakan aman kemudian.

Perbedaan tersebut dapat menunjukkan perbedaan antara waktu ketika nyala utama berhasil dikendalikan dan waktu ketika seluruh kegiatan pembasahan selesai. Namun, pihak berwenang belum memberikan satu kronologi teknis yang merinci setiap tahap.

Dalam kebakaran bangunan, petugas memang tidak langsung meninggalkan lokasi setelah api tidak terlihat. Mereka harus memeriksa plafon, sudut ruangan, instalasi, dan material yang masih panas untuk mencegah api muncul kembali.

Pemulihan Instalasi Listrik Menjadi Perhatian Utama

Dugaan hubungan pendek listrik membuat pemeriksaan instalasi menjadi pekerjaan penting setelah kebakaran. Bagian yang rusak harus dipisahkan dari jaringan lain sebelum kegiatan renovasi dimulai.

RSSA sedang berada dalam proses pembaruan jaringan listrik dan menyebut sekitar 40 persen bagian masih belum selesai diperbarui. Kebakaran ini dapat mendorong pemeriksaan tambahan terhadap instalasi yang belum masuk tahap modernisasi.

Rumah sakit mempunyai karakter penggunaan listrik yang berbeda dari bangunan biasa. Banyak peralatan harus beroperasi selama 24 jam dan tidak dapat dihentikan ketika jaringan akan diperbaiki.

Pekerjaan karena itu harus dibagi secara bertahap. Jalur lama dipindahkan ke sistem baru tanpa memutus pasokan ke ruang pasien, laboratorium, ICU, maupun peralatan lain yang harus terus aktif.

Area Kebakaran Masih Menunggu Pemeriksaan Lanjutan

Bagian dapur yang terbakar perlu tetap dibatasi sampai proses pemeriksaan selesai. Material yang terlihat masih berdiri belum tentu aman untuk langsung digunakan kembali.

Tim teknis perlu menilai kekuatan plafon, rangka, dinding, jaringan air, ventilasi, listrik, serta peralatan yang terkena suhu tinggi. Perlengkapan dapur yang tampak utuh juga dapat mengalami kerusakan pada kabel atau komponen internal.

Hasil pemeriksaan kemudian menjadi dasar untuk menentukan apakah sebagian ruangan cukup diperbaiki atau membutuhkan penggantian lebih besar. Nilai kerugian Rp900 juta juga dapat diperbarui berdasarkan hasil inventaris tersebut.

Manajemen RSSA kini menghadapi dua pekerjaan secara bersamaan. Pelayanan kesehatan harus tetap berjalan tanpa mengurangi standar pasien, sementara dapur gizi harus dipulihkan dengan memastikan sumber kebakaran telah diketahui dan sistem yang digunakan kembali aman untuk operasional harian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *