Kasus Kanker Serviks Naik, Ini 4 Alasan Angka Skrining Masih Rendah Lonjakan kasus kanker serviks dalam beberapa tahun terakhir semakin mengkhawatirkan. Di berbagai daerah, rumah sakit mulai mencatat peningkatan pasien yang datang dengan kondisi sudah pada tahap lanjut. Para tenaga kesehatan menilai bahwa salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya angka skrining, terutama melalui pap smear dan pemeriksaan HPV. Padahal kedua metode ini terbukti efektif untuk mendeteksi dini perubahan sel leher rahim sebelum berkembang menjadi kanker.
Fenomena ini membuat banyak pihak bertanya mengapa perempuan masih enggan melakukan skrining. Apalagi pemerintah dan lembaga kesehatan sudah melakukan berbagai kampanye kesadaran. Untuk menggali lebih dalam, berikut laporan lengkap mengenai empat alasan utama yang membuat angka skrining kanker serviks masih rendah.
Terkadang masalah kesehatan yang paling serius justru muncul bukan karena kurangnya fasilitas, tetapi karena kurangnya keberanian untuk menghadapi kenyataan sejak awal.
Kanker Serviks Minimnya Edukasi Kesehatan Reproduksi
Banyak perempuan belum memahami betapa pentingnya skrining kanker serviks. Meski kampanye publik sudah berjalan, pesan yang disampaikan belum sepenuhnya menjangkau kelompok masyarakat yang tepat. Di beberapa wilayah, pembahasan tentang kesehatan reproduksi masih dianggap tabu sehingga informasi yang beredar tidak merata.
Di tingkat keluarga, topik ini juga jarang dibicarakan. Banyak ibu tidak merasa perlu menjelaskan kepada anak perempuannya tentang risiko kanker serviks atau pentingnya pemeriksaan rutin. Padahal edukasi sejak dini dapat membentuk kebiasaan dan kesadaran akan kesehatan reproduksi. Ketika pembahasan mengenai organ reproduksi dianggap sensitif, akhirnya perempuan tidak mengetahui bahwa kanker serviks bisa dicegah dengan skrining berkala.
Kanker Serviks Kurangnya akses informasi yang akurat
Salah satu hambatan adalah banyaknya mitos yang menyebar. Ada yang mengira skrining hanya diperlukan bagi perempuan yang sudah menikah, ada pula yang percaya bahwa pap smear bisa menimbulkan rasa sakit berlebih. Informasi seperti ini membuat banyak perempuan menghindar sebelum mencoba.
Selain itu, literasi kesehatan digital juga berpengaruh. Ketika seseorang tidak terbiasa mencari informasi dari sumber resmi, mereka lebih mudah percaya pada opini tidak terverifikasi yang beredar di media sosial.
Kanker Serviks Edukasi yang tidak konsisten di fasilitas kesehatan
Sebagian fasilitas kesehatan belum menjadikan edukasi skrining sebagai program rutin. Ada yang hanya menyampaikan informasi ketika pasien bertanya, bukan secara proaktif. Padahal pendekatan aktif sangat penting mengingat topik ini bukan sesuatu yang banyak orang berani tanyakan secara langsung.
Kanker Serviks Kekhawatiran Biaya Pemeriksaan
Meski beberapa layanan pap smear maupun tes HPV bisa ditemukan di fasilitas kesehatan pemerintah dengan harga terjangkau, banyak perempuan masih beranggapan bahwa biaya skrining sangat mahal. Gambaran bahwa pemeriksaan medis selalu membutuhkan biaya besar sudah mengakar kuat di masyarakat.
Di beberapa daerah, pemeriksaan skrining memang belum sepenuhnya ditanggung oleh sistem pembiayaan kesehatan. Kondisi ini membuat perempuan dari kalangan ekonomi menengah ke bawah semakin menghindar. Mereka sering kali memprioritaskan kebutuhan keluarga dan menunda pemeriksaan diri sendiri meski memiliki gejala.
Ketika biaya dianggap sebagai tembok besar, banyak orang lupa bahwa pencegahan selalu jauh lebih murah dibanding pengobatan yang datang terlambat.
Informasi biaya yang tidak terbuka
Di sejumlah fasilitas kesehatan, informasi mengenai biaya pemeriksaan tidak dipublikasikan secara jelas. Hal ini memunculkan persepsi bahwa biaya pasti tinggi. Jika informasi dibuat transparan, banyak perempuan mungkin akan menyadari bahwa skrining sebenarnya jauh lebih terjangkau dibanding apa yang mereka bayangkan.
Pilihan metode skrining yang membingungkan
Perempuan sering bingung harus memilih pap smear atau tes HPV, dan kebingungan ini membuat mereka mengurungkan niat. Padahal tenaga medis dapat membantu menjelaskan bahwa keduanya sama sama bertujuan untuk deteksi dini. Ketidakjelasan mengenai prosedur dan biaya masing masing metode membuat skrining terasa rumit.
Rasa Takut terhadap Prosedur Pemeriksaan Kanker Serviks
Banyak perempuan menunda skrining karena takut merasa sakit atau tidak nyaman saat menjalani prosedur. Ketakutan ini sering kali muncul sebelum mereka mendapatkan informasi yang benar. Anggapan bahwa pemeriksaan akan memalukan atau invasif juga membuat skrining semakin dihindari.
Di sisi lain, pengalaman buruk yang dialami beberapa pasien membuat rumor berkembang cepat. Orang yang pernah merasakan ketidaknyamanan mungkin menceritakan pengalamannya secara dramatis sehingga menimbulkan ketakutan berantai.
Minimnya komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan
Ketika tenaga kesehatan tidak memberi penjelasan mendetail tentang proses skrining, pasien cenderung merasa cemas. Penjelasan mengenai apa yang akan terjadi di ruang pemeriksaan, berapa lama prosedur berlangsung dan bagaimana mengatasi rasa tidak nyaman, dapat membuat pasien lebih tenang. Sayangnya, komunikasi seperti ini belum menjadi standar di semua fasilitas kesehatan.
Stigma bahwa pemeriksaan organ reproduksi itu memalukan
Perempuan yang hidup dalam lingkungan konservatif cenderung merasa takut dihakimi jika mengaku menjalani pemeriksaan reproduksi. Mereka khawatir orang lain akan salah paham atau menghubungkan pemeriksaan tersebut dengan perilaku tertentu. Stigma seperti ini membuat skrining dianggap sesuatu yang harus disembunyikan, padahal tujuannya murni untuk menjaga kesehatan.
Akses Layanan Kesehatan yang Belum Merata
Di kota besar, fasilitas untuk melakukan skrining kanker serviks cukup banyak. Namun kondisi berbeda terjadi di daerah terpencil atau pedesaan. Banyak perempuan harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan pemeriksaan. Kondisi geografis, biaya transportasi dan keterbatasan tenaga medis menjadi hambatan besar.
Selain itu, tidak semua puskesmas memiliki fasilitas yang memadai untuk pemeriksaan lanjutan. Meskipun ada program skrining massal, keberlanjutan layanan sering tidak terjamin. Jadwal pemeriksaan tidak berlangsung reguler sehingga perempuan tidak memiliki kesempatan yang konsisten untuk melakukan skrining.
Akses kesehatan yang tidak merata membuat perempuan seakan tidak memiliki pilihan, sementara kanker serviks tidak menunggu kesiapan siapa pun.
Keterbatasan tenaga medis terlatih
Untuk melakukan skrining secara optimal, dibutuhkan tenaga kesehatan yang terlatih khusus. Di beberapa daerah, jumlah tenaga medis sangat terbatas. Akibatnya, program skrining tidak bisa berjalan rutin. Ketika harus menunggu jadwal yang berbulan bulan, perempuan semakin enggan dan menunda.
Prioritas kesehatan yang berbeda di tiap wilayah
Beberapa daerah masih fokus pada penanganan penyakit menular atau masalah gizi. Kanker serviks dianggap tidak mendesak sehingga program deteksi dini sering tertunda. Padahal skrining yang tidak teratur akan memperbesar peluang perempuan datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut.
Perlu Gerakan yang Lebih Dekat dengan Perempuan
Melihat empat alasan utama yang membuat angka skrining rendah, terlihat jelas bahwa persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyediakan fasilitas. Dibutuhkan pendekatan yang lebih dekat dan emosional kepada perempuan. Komunikasi harus dibuat lebih membumi, bukan hanya berisi istilah medis yang kaku.
Program edukasi juga perlu melibatkan komunitas. Perempuan lebih mudah terbuka ketika informasi disampaikan melalui lingkungan yang mereka percayai seperti kelompok ibu pengajian, komunitas lokal atau kader kesehatan desa. Pelibatan tokoh masyarakat dapat mengurangi stigma dan membuat skrining terasa sebagai bagian dari perawatan diri, bukan sesuatu yang memalukan.
Selain edukasi, transparansi biaya dan kemudahan akses menjadi kunci. Jika perempuan mengetahui biaya yang sebenarnya serta jadwal pemeriksaan yang konsisten, mereka akan merasa lebih yakin untuk mengambil langkah pencegahan.
Harapan Baru dari Teknologi dan Kampanye Publik
Meskipun angka skrining masih rendah, muncul berbagai inovasi yang dapat menjadi harapan. Pemeriksaan mandiri menggunakan alat deteksi HPV rumahan mulai diuji coba di beberapa negara. Metode ini memungkinkan perempuan melakukan pemeriksaan tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan, sehingga dapat membantu mengatasi rasa malu atau takut.
Selain itu, kampanye publik yang lebih kreatif mulai bermunculan. Alih alih menggunakan bahasa medis, kampanye kini dibuat lebih emosional dengan menonjolkan kisah nyata para penyintas. Cerita ini dianggap lebih mudah menyentuh kesadaran masyarakat karena menggambarkan bahwa kanker serviks bisa menyerang siapa saja.
Di beberapa kota besar, organisasi perempuan juga mulai menggelar kelas edukasi yang membahas kesehatan reproduksi secara terbuka. Kelas semacam ini memberikan ruang bagi perempuan untuk bertanya tanpa rasa takut dihakimi.
