KN SAR Ramawijaya Mentawai Terbakar Saat Docking di Muara Baru

Berita9 Views

KN SAR Ramawijaya Mentawai Terbakar Saat Docking di Muara Baru Kapal milik Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan terbakar ketika menjalani perawatan tahunan di kawasan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu malam, 22 Juli 2026. Armada tersebut diketahui sebagai KN SAR Ramawijaya 240 yang selama ini dioperasikan oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan Mentawai.

Kebakaran terjadi di galangan kapal PT Proskuneo Kadarusman saat kapal tidak sedang menjalankan operasi pencarian dan pertolongan. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta Desiana Kartika Bahari memastikan seluruh anak buah kapal yang bertugas mengawasi perawatan berhasil menyelamatkan diri. Para pekerja galangan juga dilaporkan dalam keadaan selamat.

Petugas pemadam mengerahkan puluhan personel untuk mengendalikan api yang membesar pada badan kapal. Hingga proses pendinginan dilakukan, penyebab kebakaran dan besaran kerugian belum dapat dipastikan. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui titik awal api serta kegiatan yang berlangsung sebelum kebakaran terjadi.

Api Muncul Ketika Kapal Menjalani Perawatan Tahunan

KN SAR Ramawijaya berada di Jakarta untuk mengikuti docking tahunan. Kegiatan ini umumnya dilakukan agar bagian kapal yang sulit diperiksa ketika berada di air dapat ditangani secara lebih menyeluruh.

Basarnas menyebut kapal berada di galangan PT Proskuneo Kadarusman di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Muara Baru. Desiana mengatakan kebakaran terjadi sekitar pukul 18.40 WIB. Informasi awal kemudian diterima petugas pemadam dari warga pada pukul 19.58 WIB.

Docking menjadi bagian penting dalam pemeliharaan kapal karena armada harus diangkat atau ditempatkan pada fasilitas khusus. Pemeriksaan dapat meliputi lambung, sistem penggerak, instalasi listrik, mesin, pipa, perlengkapan keselamatan, serta bagian lain yang mengalami keausan selama pelayaran.

Pekerjaan tersebut diperlukan untuk menjaga kapal tetap layak digunakan. Bagi kapal SAR, kesiapan teknis mempunyai nilai besar karena armada dapat dikerahkan dalam keadaan cuaca buruk, gelombang tinggi, perjalanan malam, dan operasi berjam jam.

Laporan Warga Diterima Menjelang Pukul Delapan Malam

Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu menerima informasi kebakaran pada pukul 19.58 WIB. Petugas tiba dan mulai melakukan pemadaman sekitar pukul 20.03 WIB.

Pengerahan awal terdiri atas 14 unit kendaraan dengan sekitar 70 personel. Dalam perkembangan berikutnya, Humas Kantor SAR Jakarta Ramli Prasetio menyebut sekitar 20 kendaraan pemadam berada di lokasi. Perbedaan jumlah tersebut dapat terjadi karena adanya penambahan armada selama penanganan berlangsung.

Api yang membakar bagian kapal terlihat cukup besar dan menghasilkan asap tebal. Petugas mengarahkan aliran air ke bagian badan kapal sambil berusaha mencegah api mencapai area lain di galangan.

Proses pemadaman berlangsung selama beberapa jam. Berdasarkan informasi pusat komando pemadam Jakarta, penanganan dilakukan hingga sekitar pukul 22.23 WIB. Setelah nyala utama dikendalikan, petugas masih harus memeriksa titik panas dan melakukan pendinginan.

Kapal Terbakar Bukan Milik Kantor SAR Jakarta

Keberadaan kapal di Jakarta sempat menimbulkan anggapan bahwa armada tersebut dioperasikan oleh Kantor SAR Jakarta. Basarnas kemudian memberikan penjelasan bahwa KN SAR Ramawijaya merupakan kapal utama milik Kantor Pencarian dan Pertolongan Mentawai.

Ramli Prasetio menegaskan kapal hanya berada di Jakarta untuk menjalani perawatan. Armada itu bukan bagian dari sarana laut yang sehari hari dikelola Kantor SAR Jakarta.

Keterangan tersebut penting karena identitas pemilik kapal berkaitan dengan pengelolaan operasional, penempatan awak, perawatan, dan langkah lanjutan setelah kebakaran. Kantor SAR Mentawai akan berkepentingan mengetahui tingkat kerusakan serta waktu yang diperlukan untuk mengembalikan armada ke wilayah tugasnya.

KN SAR Ramawijaya memiliki panjang sekitar 40 meter. Kapal tersebut digunakan untuk mendukung operasi pencarian, evakuasi, pengiriman personel, serta penanganan kecelakaan di wilayah perairan Mentawai dan sekitarnya.

Menurut penulis, penjelasan kepemilikan kapal perlu disampaikan sejak awal agar masyarakat Mentawai mengetahui keadaan salah satu armada utama yang selama ini mendukung operasi penyelamatan di wilayah kepulauan.

Tidak Ada Awak Kapal atau Pekerja yang Menjadi Korban

Kabar terpenting dari kejadian tersebut adalah tidak adanya korban jiwa maupun korban luka. Seluruh awak kapal yang sedang melakukan pengawasan dapat keluar dari area berbahaya.

Pekerja perusahaan galangan juga dipastikan selamat. Belum terdapat laporan mengenai seseorang yang harus menjalani perawatan akibat luka bakar atau menghirup asap.

Keberhasilan mengosongkan kapal menjadi bagian penting dalam keadaan darurat. Struktur kapal terdiri atas ruangan sempit, jalur terbatas, tangga, ruang mesin, dan kompartemen yang dapat memperlambat pergerakan apabila asap sudah memenuhi bagian dalam.

Asap dalam kebakaran kapal juga dapat mengurangi jarak pandang dengan cepat. Material pelapis, kabel, bahan bakar, minyak, cat, serta komponen lain dapat menghasilkan panas dan gas berbahaya saat terbakar.

Petugas pemadam harus memastikan tidak ada orang yang tertinggal sebelum memusatkan penanganan pada badan kapal. Pemeriksaan juga dibutuhkan karena pekerja galangan dapat berada di beberapa bagian kapal untuk menjalankan pekerjaan berbeda.

Penyebab Kebakaran Belum Bisa Dipastikan

Sampai penanganan malam itu selesai, petugas belum mengumumkan penyebab kebakaran. Kepala Seksi Operasi Sudin Gulkarmat Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu Gatot Sulaeman mengatakan pihaknya masih mengumpulkan keterangan saksi.

Besaran kerugian juga belum dapat dihitung. Pemeriksaan baru dapat dilakukan dengan aman setelah suhu turun dan struktur yang terbakar dinilai tidak membahayakan petugas.

Kondisi kapal sesudah kebakaran harus diperiksa pada bagian luar dan dalam. Kerusakan yang terlihat dari permukaan belum tentu menunjukkan seluruh keadaan karena panas dapat mencapai kabel, panel, pipa, ruang mesin, sekat, serta perangkat navigasi.

Penyelidik perlu mengetahui pekerjaan yang dilakukan pada hari kejadian. Catatan kegiatan, lokasi pekerja, sumber listrik sementara, alat yang digunakan, kondisi bahan mudah terbakar, dan waktu awal munculnya asap dapat membantu menemukan titik api.

Pemeriksaan Tidak Boleh Mendahului Hasil Penyelidikan

Kegiatan perbaikan kapal dapat melibatkan pengelasan, pemotongan logam, penggerindaan, pengecatan, pembersihan, perbaikan listrik, dan pembongkaran mesin. Namun, belum ada keterangan bahwa salah satu pekerjaan tersebut menjadi penyebab kebakaran KN SAR Ramawijaya.

Karena itu, dugaan mengenai korsleting atau percikan pekerjaan panas tidak dapat dinyatakan sebagai penyebab sebelum bukti ditemukan. Kesimpulan harus didasarkan pada pemeriksaan fisik, keterangan saksi, dokumen pekerjaan, dan rekaman yang tersedia.

Pedoman keselamatan galangan dari Occupational Safety and Health Administration menjelaskan bahwa pengelasan, pemotongan, dan pekerjaan penghasil panas memiliki risiko kebakaran lebih tinggi di kapal. Panas dari satu ruangan dapat memicu kebakaran di ruangan bersebelahan apabila pemeriksaan keselamatan tidak mencakup seluruh area.

Informasi tersebut hanya menjelaskan risiko umum di galangan, bukan menetapkan penyebab kejadian di Muara Baru. Penyelidikan tetap perlu memeriksa semua kemungkinan secara terbuka.

KN SAR Ramawijaya Dioperasikan Sejak 2018

KN SAR Ramawijaya bukan armada yang baru ditempatkan di Mentawai. Kapal tersebut termasuk empat kapal SAR yang diresmikan Basarnas pada 13 Maret 2018 di Dermaga Yos Sudarso, Ambon.

Empat armada itu terdiri atas KN SAR Ramawijaya, KN SAR Wibisana, KN SAR Bharata, dan KN SAR Kumbakarna. Kapal kapal tersebut disiapkan untuk memperkuat Kantor Pencarian dan Pertolongan di Mentawai, Ambon, Biak, serta Manokwari.

Penempatan kapal di Mentawai dibutuhkan karena wilayah tersebut terdiri atas banyak pulau yang dipisahkan perairan terbuka. Operasi menuju lokasi kecelakaan sering membutuhkan kapal dengan daya jelajah cukup panjang, ruang untuk personel, alat evakuasi, serta kemampuan membawa korban.

Wilayah Kepulauan Mentawai juga mempunyai kegiatan pelayaran antarpulau, kapal penangkap ikan, wisata bahari, dan perjalanan masyarakat menuju pusat permukiman. Ketika kapal mati mesin, kandas, hilang kontak, atau diterjang cuaca buruk, armada SAR menjadi salah satu unsur yang dapat dikirim menuju lokasi.

Pernah Dikerahkan dalam Pencarian Kapal Hilang Kontak

Catatan Basarnas menunjukkan KN SAR Ramawijaya pernah dilibatkan dalam pencarian KM Harapan Bersama pada Mei 2018. Kapal nelayan tersebut ditemukan setelah tiga hari pencarian di perairan sekitar Mentawai.

Pada operasi itu, sekoci KN SAR Ramawijaya digunakan untuk membawa petugas penyelamat dan logistik menuju kapal yang ditemukan. Armada tersebut bekerja bersama KN SAR Yudhistira serta unsur lain yang terlibat dalam pencarian.

Laporan tahunan Kantor Pencarian dan Pertolongan Mentawai juga mencatat peran kapten KN SAR Ramawijaya ketika MV Mentawai Fast 02 kandas di sekitar Pulau Siburu pada 21 Desember 2023. Operasi gabungan berhasil mengevakuasi 67 orang dalam keadaan selamat.

Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa kapal bukan sekadar aset yang disimpan di dermaga. KN SAR Ramawijaya telah menjadi bagian dari operasi penyelamatan yang berhubungan langsung dengan keselamatan masyarakat di wilayah kepulauan.

Kerusakan Perlu Dinilai Sebelum Kapal Kembali Beroperasi

Basarnas belum menjelaskan tingkat kerusakan KN SAR Ramawijaya. Penilaian tidak dapat hanya dilakukan dari foto atau bagian badan yang terlihat hangus.

Tim teknis perlu memeriksa kekuatan struktur, perubahan bentuk akibat panas, ruang mesin, jaringan listrik, sistem navigasi, pompa, alat komunikasi, perlengkapan pemadam, serta perangkat keselamatan. Komponen yang tidak terbakar langsung pun dapat mengalami kerusakan akibat suhu tinggi, air pemadaman, dan asap.

Apabila kerusakan terbatas pada bagian tertentu, perbaikan mungkin dapat dilakukan di galangan yang sama. Namun, jika panas mencapai struktur utama atau sistem penting, kapal dapat membutuhkan pengerjaan lebih panjang dan pemeriksaan kelayakan tambahan.

Nilai kerugian baru dapat dihitung setelah daftar komponen rusak tersedia. Perhitungan juga harus memasukkan biaya pembersihan, penggantian peralatan, pengujian, tenaga kerja, dan waktu kapal tidak dapat digunakan.

Kesiapan Armada SAR Mentawai Perlu Tetap Terjaga

Kebakaran terjadi pada kapal utama milik Kantor Pencarian dan Pertolongan Mentawai. Apabila armada harus menjalani perbaikan panjang, Basarnas perlu memastikan pelayanan di perairan tersebut tetap dapat dilakukan.

Pengaturan sementara dapat berupa penempatan kapal pengganti, kerja sama dengan kantor SAR terdekat, pemanfaatan kapal instansi lain, atau penguatan unsur lokal. Keputusan tersebut bergantung pada hasil pemeriksaan dan perkiraan lama perbaikan.

Operasi pencarian di laut tidak selalu dapat menunggu kapal selesai diperbaiki. Laporan orang hilang, kapal mati mesin, kecelakaan pelayaran, dan keadaan membahayakan manusia dapat muncul setiap saat.

Basarnas selama ini menjalankan operasi bersama TNI Angkatan Laut, kepolisian perairan, pemerintah daerah, BPBD, nelayan, dan masyarakat. Koordinasi tersebut dapat diperkuat selama KN SAR Ramawijaya belum dinyatakan siap kembali bertugas.

Penulis menilai keterbukaan mengenai lama perbaikan dan penyediaan armada pengganti akan membantu masyarakat memahami bahwa layanan SAR di Mentawai tetap dijaga setelah kejadian ini.

Keselamatan Galangan Menjadi Bagian yang Perlu Diperiksa

Kebakaran saat docking membuat prosedur keselamatan galangan menjadi salah satu bagian yang layak diperiksa. Penyelidikan dapat menelusuri pembagian tanggung jawab antara pemilik kapal, perusahaan galangan, pekerja, dan penyedia jasa lain yang berada di lokasi.

Standar keselamatan galangan menekankan perlunya rencana pencegahan kebakaran yang selaras ketika beberapa perusahaan bekerja pada satu kapal. Setiap pihak harus mengetahui bahaya, pengendalian, prosedur darurat, serta orang yang bertanggung jawab mengawasi pekerjaan.

Untuk pekerjaan yang menghasilkan panas, area harus dibersihkan dari bahan mudah terbakar. Ruang bersebelahan juga perlu diperiksa karena percikan atau panas dapat berpindah melalui celah, pipa, dinding logam, dan bukaan lain.

Petugas pengawas kebakaran diperlukan selama pekerjaan berlangsung. Pemeriksaan harus diteruskan setelah pekerjaan selesai karena bara atau permukaan panas dapat memicu api beberapa waktu kemudian.

Organisasi Maritim Internasional menempatkan pencegahan, deteksi cepat, pembatasan penyebaran api, ketersediaan alat pemadam, dan jalur keluar sebagai unsur utama keselamatan kebakaran kapal. Prinsip tersebut tetap penting ketika kapal berada di laut maupun saat menjalani perbaikan.

Penyelidikan Akan Menentukan Langkah Perbaikan Kapal

Pemeriksaan lanjutan perlu menjawab lokasi pertama api muncul, sumber penyalaan, bahan yang pertama terbakar, serta alasan api dapat berkembang. Keterangan awak, pekerja galangan, petugas keamanan, dan saksi sekitar akan dicocokkan dengan kondisi fisik kapal.

Dokumen docking juga dapat menjadi bagian pemeriksaan. Isinya dapat mencakup daftar pekerjaan, jadwal, izin penggunaan peralatan, penanggung jawab, pemeriksaan kelistrikan, pengosongan bahan bakar, serta prosedur menghadapi keadaan darurat.

Basarnas selanjutnya perlu menentukan apakah kapal dapat dipulihkan, berapa lama pengerjaan dilakukan, dan bagaimana operasional Mentawai dijaga selama perbaikan. Pemeriksaan teknis juga diperlukan sebelum KN SAR Ramawijaya kembali berlayar agar seluruh sistem keselamatan, mesin, komunikasi, dan navigasi berada dalam kondisi layak.

Hingga informasi resmi berikutnya disampaikan, penyebab kebakaran serta nilai kerusakan masih menunggu hasil penyelidikan. Kepastian sementara yang telah diberikan adalah kapal sedang menjalani docking tahunan, armada tersebut milik Kantor Pencarian dan Pertolongan Mentawai, serta tidak ada awak maupun pekerja galangan yang menjadi korban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *