Doom Scrolling Ancaman Baru bagi Kesehatan Mental Publik

Kesehatan269 Views

Doom Scrolling Ancaman Baru bagi Kesehatan Mental Publik Fenomena doom scrolling semakin sering dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Istilah ini merujuk pada kebiasaan terus menerus menggulir layar smartphone untuk membaca berita buruk, kontroversi, atau informasi yang memicu kecemasan. Tanpa disadari, kebiasaan ini menjadi aktivitas sehari hari bagi banyak orang, terutama pengguna media sosial dan aplikasi berita.

Di era ketika informasi mengalir deras setiap detik, manusia cenderung mencari berita yang memicu emosi kuat. Sayangnya, algoritma platform digital justru memperkuat kecenderungan tersebut. Alhasil, doom scrolling berubah menjadi lingkaran yang sulit dihentikan. Banyak ahli menyebut fenomena ini sebagai ancaman baru bagi kesehatan mental publik.

“Semakin kita mencoba mencari rasa aman dari berita buruk, semakin kita terperangkap dalam kecemasan yang kita ciptakan sendiri.”


Saat Layar Kecil Menciptakan Kekhawatiran Besar

Kebiasaan doom scrolling biasanya dimulai dari rasa ingin tahu. Seseorang mungkin membuka media sosial untuk melihat update terbaru, kemudian melihat judul berita negatif. Setelah itu, ia terus menggulir, membuka satu demi satu postingan atau berita yang serupa.

Efek yang muncul bukan lagi sekadar rasa ingin tahu, tetapi kecemasan yang semakin meningkat. Pikiran menjadi tegang, tubuh merasa gelisah, dan fokus terganggu. Banyak orang mengalaminya tanpa sadar, terutama menjelang tidur atau saat bangun pagi.

Ironisnya, aktivitas yang awalnya dimaksudkan untuk mendapatkan informasi justru memperburuk keadaan mental.


Mengapa Doom Scrolling Menjadi Perilaku yang Sulit Dihentikan

Doom scrolling bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan respon psikologis terhadap rasa takut dan kebutuhan untuk merasa terkendali. Otak manusia secara alami lebih sensitif terhadap ancaman daripada hal hal positif. Inilah sebabnya berita buruk menarik perhatian lebih besar.

Beberapa alasan utama mengapa doom scrolling sulit dihentikan:

Algoritma Media Sosial

Platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Jika seseorang sering membaca berita negatif, algoritma akan terus menampilkan konten serupa.

Sensasi Kecanduan Emosional

Berita buruk memicu adrenalin dan sensasi kewaspadaan. Pada beberapa orang, ini berubah menjadi bentuk kecanduan emosional.

Rasa Tidak Berdaya

Banyak orang merasa perlu membaca berita buruk meski membuat diri mereka tertekan. Ada rasa takut ketinggalan informasi.

Kebiasaan Harian yang Tidak Disadari

Doom scrolling sering terjadi saat seseorang sedang santai, sehingga menjadi aktivitas pasif yang tanpa sengaja dilakukan.

“Doom scrolling itu seperti berusaha memadamkan api dengan bensin. Semakin dicari solusinya lewat layar, semakin besar kecemasan yang muncul.”


Dampak Doom Scrolling terhadap Kesehatan Mental

Fenomena ini berdampak besar pada kesehatan mental publik. Banyak ahli menyebut doom scrolling sebagai salah satu pemicu meningkatnya stres, depresi ringan, dan gangguan tidur pada generasi digital.

Meningkatkan Kecemasan

Paparan terus menerus terhadap berita buruk membuat otak masuk ke mode darurat. Ini bisa memicu kecemasan berlebih bahkan pada orang yang sebelumnya stabil.

Menurunkan Kualitas Tidur

Kebiasaan doom scrolling sebelum tidur mengaktifkan otak secara berlebihan, membuat tubuh sulit rileks.

Mengganggu Konsentrasi

Otak kehilangan kemampuan untuk fokus pada satu hal karena terlalu terbiasa dengan arus informasi cepat.

Memicu Persepsi Dunia yang Negatif

Paparan informasi buruk secara konstan membuat seseorang merasa dunia menjadi semakin berbahaya, bahkan ketika tidak demikian.

Menurunkan Kesejahteraan Emosional

Pengguna sering merasa sedih, lelah, atau tidak bersemangat setelah sesi doom scrolling panjang.

Bagi banyak orang, dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi secara perlahan merusak kesehatan mental mereka.


Dampak Sosial dari Kebiasaan Doom Scrolling

Doom scrolling juga memiliki dampak pada ruang sosial. Ketika banyak orang mengalami kecemasan kolektif akibat konsumsi informasi berlebihan, atmosfer sosial menjadi tegang.

Meningkatkan Polarisasi

Berita buruk sering kali terkait isu politik, bencana, atau konflik. Konsumsi berlebih memperkuat polarisasi masyarakat.

Menurunkan Empati

Ketika terlalu sering melihat berita buruk, seseorang bisa menjadi kebal atau justru kehilangan empati karena kelelahan emosional.

Menyebabkan Sikap Paranoid

Sebagian orang mulai melihat ancaman di mana mana, termasuk yang tidak relevan dengan hidup mereka.

Mengurangi Interaksi Sosial

Orang yang terjebak doom scrolling cenderung menarik diri dari aktivitas sosial karena merasa lelah secara mental.

“Masyarakat yang terlalu sering melihat dunia dari layar akhirnya lupa bahwa kehidupan nyata tidak seburuk yang mereka bayangkan.”


Kapan Doom Scrolling Mulai Dianggap Berbahaya

Doom scrolling menjadi masalah ketika sudah memengaruhi kondisi emosional dan aktivitas harian. Tanda tandanya bisa dilihat dari beberapa hal berikut.

Sering Merasa Gelisah Tanpa Alasan

Otak terlalu terbebani oleh informasi negatif.

Sulit Tidur atau Terbangun Tengah Malam

Banyak orang memikirkan kembali berita buruk yang mereka baca.

Kehilangan Minat pada Aktivitas

Kelelahan mental membuat seseorang kehilangan semangat.

Terobsesi dengan Berita Terbaru

Seseorang merasa harus selalu mengikuti update meski membuat suasana hati terganggu.

Jika tanda tanda ini muncul, doom scrolling sudah memasuki tahap yang membahayakan kesehatan mental.


Apa yang Mendorong Publik Mengalami Doom Scrolling

Banyak faktor yang membuat doom scrolling terasa seperti kebutuhan. Salah satunya adalah ketidakpastian hidup. Ketika pandemi melanda, misalnya, kebiasaan doom scrolling meningkat drastis karena masyarakat ingin mendapatkan kepastian.

Faktor lain adalah ketidakpercayaan pada institusi informasi. Publik merasa perlu memverifikasi banyak sumber sehingga terus menggulir dari satu berita ke berita lain.

Ketiga, rasa ingin tahu manusia terhadap hal negatif lebih tinggi dibanding positif. Inilah yang dimanfaatkan platform digital untuk meningkatkan engagement.


Bagaimana Media Turut Berperan dalam Fenomena Doom Scrolling

Media memainkan peran penting dalam membentuk kebiasaan doom scrolling. Banyak judul berita menggunakan gaya yang memicu rasa takut atau penasaran berlebih. Strategi ini memang efektif untuk menarik klik, tetapi berdampak negatif bagi kesehatan mental publik.

Berita buruk diberi highlight lebih besar dibanding berita positif. Hal ini membuat publik merasa dunia penuh masalah, padahal realitas tidak selalu demikian.

Media sosial memperburuk situasi karena setiap orang bisa menyebarkan informasi tanpa filter. Berita hoaks dan narasi menakutkan memperkuat kecenderungan doom scrolling.

“Ketika berita buruk dijadikan komoditas, kita semua menjadi pelanggan yang kelelahan secara emosional.”


Cara Menghentikan atau Mengurangi Doom Scrolling

Menghentikan doom scrolling memerlukan kesadaran dan disiplin diri. Beberapa langkah efektif yang disarankan ahli psikologi antara lain:

Membatasi Waktu Penggunaan Sosial Media

Gunakan timer atau fitur pengingat untuk membatasi durasi scrolling.

Mengurangi Sumber Berita Negatif

Unfollow akun yang sering menyebarkan kecemasan.

Mengisi Hari dengan Aktivitas Positif

Olahraga, membaca buku, atau bertemu teman membuat otak lebih rileks.

Melakukan Digital Detox

Beristirahat dari gadget selama beberapa jam sehari atau satu hari penuh.

Mengatur Waktu untuk Membaca Berita

Misalnya hanya pada pagi hari, bukan menjelang tidur.

Cara cara ini terbukti mampu menurunkan kecemasan dan memperbaiki suasana hati.


Peran Keluarga dan Lingkungan dalam Menghadapi Doom Scrolling

Fenomena ini tidak hanya menjadi masalah individu, tetapi juga memengaruhi keluarga dan lingkungan sekitar. Ketika seseorang terjebak doom scrolling, emosi negatifnya dapat berdampak pada orang lain.

Keluarga bisa berperan mengingatkan dan mengajak aktivitas yang lebih sehat. Komunitas juga dapat menciptakan ruang percakapan yang positif untuk mengurangi ketakutan berlebih yang muncul dari berita negatif.

Kesadaran kolektif sangat penting agar doom scrolling tidak berubah menjadi masalah sosial yang lebih besar.


Kesadaran Publik sebagai Kunci Menghadapi Ancaman Ini

Doom scrolling mungkin terlihat sebagai kebiasaan kecil, tetapi dampaknya besar pada kesehatan mental dan kesejahteraan sosial. Kesadaran publik adalah langkah awal untuk mengatasi ancaman ini. Semakin banyak orang memahami risikonya, semakin mudah mencegah dampaknya.

Tanpa kesadaran ini, doom scrolling akan terus berkembang sebagai kebiasaan yang memengaruhi generasi digital.